Mohon bersabar, tunggu sebentar ya...

Cerita Rakyat & Naskah Kuno

Cerita rakyat Bugis, puisi bugis, dan naskah Lontara yang merekam sejarah dan kearifan leluhur

cerita rakyat & naskah kuno

Cerita Rakyat

La Galigo (Karya sastra agung dari Tana Ugiq)

La Galigo dalam Kesusasteraan Bugis: Naskah La Galigo yang ditranskripsi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam terbitan ini merupakan salah satu naskah Bugis yang disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Di dalam sastra Nusantara, baik lisan maupun tertulis, La Galigo memiliki posisi yang unik. Malah bukan hanya dalam sastra Nusantara, tetapi juga dalam sastra dunia. La Galigo merupakan salah satu karya sastra terbesar di dunia. Menurut R.A. Kern, seorang ahli sastra dan bahasa Bugis dan penyusun katalog naskah-naskah La Galigo, jumlah halamannya diperkirakan sekitar 6.000 berukuran folio (Kern 1954:v). Walaupun tidak mungkin panjangnya ditetapkan dengan pasti, karena ciri khas La Galigo adalah bentuknya yang tidak tetap seperti karya sastra lisan, kemungkinan besar La Galigo merupakan epos tertulis yang terpanjang dalam sastra dunia. Dengan jumlah ‘baris’ yang paling kurang 225.000 karya sastra Bugis itu lebih panjang daripada epos bahasa Sanskerta Mahabharata, yang jumlah barisnya antara 160.000 dan 200.000.

Walaupun begitu unik, ternyata setelah tahun 1872, ketika bagian pertama diterbitkan dengan menggunakan huruf lontaraq (Matthes 1872a:416-547), sampai saat edisi pertama diterbitkan pada tahun 1995 belum pernah diterbitkan episode La Galigo, apalagi terjemahannya.3 Selama 20 tahun sejak terbitan pertama, telah empat episode La Galigo diterbitkan. Tahun 1999 disertasi Fachruddin Ambo Enre, yang ditulis 1983, terbit yang mengandung episode Ritumpanna wélenréngngé (‘Ditebangnya pohon wélenréng’) (Fachruddin Ambo Enre 1999a). Edisi ini juga berdasarkan naskah NBG 188 (bagian dari jilid 7 dan 8). Jilid 2 naskah NBG 188 terbit tahun 2000 (Salim dkk. 2000). Episode Sompeqna Sawérigading lao ri Cina (‘Pelayaran Sawérigading ke Cina’) merupakan subjek disertasi Nurhayati Rahman (Rahman 2006). Publikasi ini mengandung edisi teks dan terjemahan dua naskah, yaitu satu naskah ditulis atas daun lontar dari koleksi Tropenmuseum di Amsterdam, dan satu naskah pada kertas dari koleksi pribadi. Belum lama ini Andi M. Akhmar menerbitkan episode Bottinna I La Déwata sibawa I Wé Attaweq (‘Perkawinan I La Déwata dengan I Wé Attaweq’) (Akhmar 2016). Berdasarkan disertasi penulis buku ini merupakan terbitan yang sangat penting karena episode ini tidak terdapat dalam katalog-katalog Kern dan Matthes, malah dianggap bukan bagian dari La Galigo, tapi ‘tiruan’ (Kern 1954:263-264). Dari sekian banyak versi episode ini ada yang memperlihatkan pengaruh agama Islam dan bahasa Arab dan merupakan contoh bahwa tradisi La Galigo mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan baru, yaitu masuknya agama Islam (Akhmar 2016:3; Koolhof 1999:380-381, 2016:156). Edisi pertama jilid 2 (Salim dkk. 2000) menjadi dasar analisis terperinci geografi, pelayaran dan politik dalam La Galigo (Liebner 2003).

Sureq Galigo, judul lain untuk karya tersebut, sebenarnya tidak terdapat dalam bentuk yang lengkap. Setiap naskah yang masih ada mengandung satu atau dua episode (bahasa Bugis: téreng) yang pada umumnya dengan mudah dapat dihubungkan dengan episode-episode yang lain (Kern 1939:3). Sastra La Galigo memiliki beberapa ciri formal yang membedakannya dari karya-karya sastra Bugis lain. Ciri itu dapat digolongkan pada tiga bagian:

  • metrum
  • bahasa
  • pokok cerita

Metrum yang terdapat dalam setiap naskah ditentukan oleh jumlah suku kata. Dasar metrum adalah lima suku kata, hanya jika tekanan jatuh pada suku kata terakhir jumlahnya empat suku kata.4 Metrum ini adalah ciri khas La Galigo (Sirk 1986; Fachruddin Ambo Enre 1999a:78-83). Metrum yang berdasarkan jumlah suku kata yang tetap memang bukan hal yang aneh dalam sastra Bugis–umpamanya ada toloq yang terdiri dari segmen-segmen yang jumlah suku katanya delapan, atau élong yang terdiri dari 3 baris yang terdiri dari 8, 7 dan 6 suku kata (Koolhof 2007, 2008; Tol 1990:18-32).

Bahasa yang digunakan dalam teks La Galigo cukup berbeda dari bahasa sehari-hari. Bahasa Bugis kuno, bahasa Galigo, bahasa nenekmoyang (basa to ri olo), bahasa sureq adalah beberapa nama yang biasanya digunakan. Perbedaan yang paling menonjol dengan bahasa Bugis sehari-hari terdapat dalam kosa kata, bukan dalam tata bahasanya yang hampir sepadan. Banyak kata dan istilah merupakan ciri khas La Galigo, walaupun sebagian kosa kata itu juga dapat ditemukan dalam karya sastra lain seperti toloq, nyanyian bissu atau élong (Koolhof 2007:181, 2008:334). Selain kata-kata yang tidak diketahui artinya lagi oleh masyarakat umum, ciri bahasa Galigo adalah pemakaian sinonim dalam jumlah yang cukup banyak. Misalnya untuk melambangkan konsep ‘emas’ ada sekitar 20 sinonim.

Pada tingkat frase dan kalimat, bahasa Galigo itu bercirikan pemakaian formula dan paralelisme. Formula adalah frase atau kalimat yang sering muncul dalam teks untuk mengungkapkan salah satu konsep tertentu dan yang dipakai dalam konteks yang sama. Kata-katanya tetap sama atau hampir sama. Paralelisme sebenarnya adalah sejenis formula yang di dalamnya sebuah makna diulangi dua atau tiga kali, biasanya dengan struktur sintaktis yang sama pula.

Kisah yang bersifat epis-mitologis itu menceritakan pengalaman dan petualangan enam generasi keturunan dewa-dewa dunia atas (Boting Langiq) dan dunia bawah (Pérétiwi). Tokoh-tokoh Sureq Galigo pada umumnya tidak muncul dalam karya-karya sastra Bugis lain. Suatu kekecualian adalah Sangiang Serri, anak Batara Guru yang setelah meninggal dunia menjadi dewi padi. Beliau merupakan pelaku utama dalam Méong mpalo karellaé, ‘Cerita kucing belang’.5 Sawérigading, tokoh utama La Galigo, kadang-kadang muncul juga dalam cerita-cerita lisan. Tema yang menonjol dalam seluruh cerita La Galigo ialah perkawinan dan pencarian jodoh yang pantas dan sederajat, di samping pelayaran jauh dan cerita perang.

Meskipun sampai sekarang aspek yang berhubungan tertulisnya tradisi La Galigo selalu menonjol dalam karya ilmiah mengenai tradisi tersebut, ada aspek kelisanan yang juga perlu dikemukakan. Kelisanan itu tidak dapat terpisahkan dari tradisi sastra Bugis, seperti juga di dalam banyak jenis sastra Nusantara yang lain (Robson 1988:37-39). Naskah La Galigo pada umumnya tidak dibaca seorang diri dalam hati, tetapi dinyanyikan oleh seorang passureq pada acara-acara seperti perkawinan, pindah rumah baru, atau sebelum mau turun ke sawah. Sureq Galigo juga sering dibacakan dalam lingkungan keluarga sebagai hiburan.6 Cara melagukan cerita La Galigo dalam bahasa Bugis disebut laoang atau selléang, dan di daerah Bugis terdapat beberapa macam laoang (Salim 1990:334; Koolhof 1992:127). Selain tradisi yang menurunkan La Galigo dalam bentuk naskah, ada juga tradisi yang lepas daripada penulisan. Episode, atau bagian episode, diceritakan pencerita tanpa menggunakan naskah, misalnya pada salah satu upacara adat (Koolhof 1992).

La Galigo mempunyai struktur cerita yang besar, yang di dalamnya terdapat bingkai cerita yang dapat dikategorikan sebagai sub-cerita atau episode (téreng). Setiap episode dapat dilihat dalam dua dimensi, di satu sisi ia merupakan bagian cerita dari keseluruhan konstruksi La Galigo, di sisi yang lain merupakan cerita yang berdiri sendiri. Dengan kata lain, La Galigo mempunyai alur pokok, yang terdiri dari beberapa episode. Setiap episode juga mempunyai alur tersendiri, yang sebenarnya merupakan sub-alur dari La Galigo secara keseluruhan

Pemahaman jalan ceritanya tidak begitu mudah karena kompleksitas alur cerita, ditambah dengan hal masing-masing tokoh punya beberapa nama yang berbeda. Kita harus memahami pula alur cerita La Galigo secara keseluruhan, episode demi episode. Untuk menciptakan hubungan antara isi beberapa episode alur ceritanya tidak selalu digambarkan secara kronologis, tetapi melalui bentuk penceritaan kilas balik dan pembayangan. Pada kilas balik, umumnya yang diceritakan adalah deskripsi tentang garis besar silsilah leluhur tokoh-tokoh utama, dan garis besar cerita yang mendahuluinya. Sedangkan pembayangan pada umumnya merupakan ramalan tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan kejadian-kejadian itu sebetulnya merupakan ringkasan cerita tentang episode selanjutnya.

Membaca La Galigo bagai membaca sebuah cerita bersambung yang tidak pernah ada habisnya. Sebab setiap tokoh pasti mempunyai episode tersendiri, dan karena tokoh-tokoh tersebut bersambung-sambung genealoginya, maka begitu banyak kejadian yang harus diceritakan.7

Pada zaman modern kini epos tradisional La Galigo juga mengilhami beberapa orang seniman untuk melanjutkan tradisi dengan cara modern, baik di Sulawesi maupun di luar. Rhoda Grauer, seorang penulis, produser, dan sutradara teater dan film dokumenter, bekerja sama dengan produser teater Restu Kusumaningrum, menulis skenario berdasarkan cerita La Galigo yang dipentaskan oleh sutradara terkenal dari Amerika Serikat, Robert Wilson. Mulai tahun 2004 pertunjukan yang dipentaskan kru penari Indonesia kelilingi dunia, dari Singapura, Eropa, New York, Melbourne sampai di Taipei, Jakarta dan Makassar (di Mambro dkk. 2004). Generasi muda di Sulawesi terinspirasi pementasan itu dan membawa teater cerita La Galigo di beberapa tempat di Sulawesi Selatan. Tradisi naskah dilanjutkan oleh penulis muda yang mendapat inspirasi dari cerita tradisional La Galigo, seperti Dul Abdul Rahman (2012a, 2012b) dan Idwar Anwar (2010). Tahun 2011 La Galigo dicalonkan oleh negara Indonesia dan Belanda kepada UNESCO untuk didaftarkan dalam Memory of the World Register. Dua naskah diterima dan didaftarkan sebagai Memory of the World, satu di koleksi Museum La Galigo di Makassar,8 yang kedua yang diterbitkan dalam buku ini, NBG 188 di Perpustakaan Universitas Leiden. Dengan bantuan Yayasan La Galigo naskah NBG 188 sudah didigitalisasi dan dapat diakses di internet supaya di mana-mana bisa dibaca.

Sejarah Pengkajian Sureq Galigo: Sejak kedatangan orang Barat di Kepulauan Nusantara, khazanah bahasa dan sastra masyarakat setempat mulai diteliti dan naskah-naskahnya dikumpulkan. Yang sangat penting dalam proses penelitian bahasa-bahasa itu–bahasa yang dewasa ini disebut bahasa daerah–ialah ahli yang sejak awal abad ke-19 diutus ke Indonesia oleh Nederlandsch Bijbelgenootschap (NBG, Lembaga Alkitab Belanda), dengan tujuan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa setempat. Tujuan itu hanya dapat dicapai jika bahasa dan sastra daerah dipelajarinya secara mendalam. Oleh karena itu penerjemah Alkitab pada umumnya tinggal sampai puluhan tahun di tengah masyarakat supaya dapat memahami bahasa setempat dengan baik. Biasanya dalam masa belajar itu mereka menghubungi seseorang yang berdwibahasa: bahasa Melayu dan bahasa ibunya. Di samping itu naskah-naskah mulai dicari, karena pada waktu itu (abad ke-19) bahasa tertulis dianggap lebih murni dan lebih lengkap daripada bahasa lisan. Sulawesi Selatan menjadi lapangan kerja Benjamin Frederik Matthes yang ditugaskan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan bahasa Makassar. Selama tinggal di Sulawesi Selatan banyak naskah, antara lain 26 naskah Sureq Galigo, dikumpulkannya dan disalinnya (Fachruddin AE 1989:ix). Sesudah pulang ke Belanda Matthes menyerahkan semua naskahnya kepada Nederlands Bijbelgenootschap yang kemudian memberikannya sebagai pinjaman tetap kepada Perpustakaan Universitas Leiden. Naskah NBG 188 yang diterbitkan dalam buku ini merupakan salah satu naskah koleksi NBG tersebut.

Matthes sebenarnya bukan ilmuwan pertama yang menujukan perhatiannya kepada bahasa dan sastra daerah Sulawesi Selatan. Pada tahun 1811 sebuah artikel “On the languages and literature of the Indo-Chinese nations” dipublikasikan oleh John Leyden, seorang Inggris yang tinggal di Pulau Pinang dan bekerja untuk Thomas Stamford Raffles. Beberapa bahasa di kawasan Asia Tenggara dibicarakannya, termasuk bahasa dan sastra Bugis. Ternyata La Galigo sebagai genre atau puisi epik tidak diketahuinya. Leyden memasukkan daftar judul karya sastra Bugis yang menurutnya terkenal di daerah Bugis. Sebagian besar judul itu sebetulnya nama tokoh-tokoh cerita La Galigo (Noorduyn 1957:240; Kern 1939:1). Nama yang kita temui pada daftar itu misalnya: Batára Guru, Guru De Sillang (= Guru ri Selleng), Batára Latoh (= Batara Lattuq), Opu Sangmuda, Sawira Gading (= Sawérigading) dan Laga-ligo (Leyden 1811:195). Kemudian Leyden juga mengutip sebagian dari satu-satunya cerita Bugis yang dimilikinya. Kutipan itu merupakan beberapa baris yang diambil dari salah satu episode La Galigo. Leyden memperhatikan pula bahwa ciri terpenting karya sastra Bugis ialah irama dan nada (Leyden 1811:196).

Bahwa irama puisi La Galigo terdiri dari lima suku kata diikuti oleh jeda merupakan penemuan Sir Thomas Stamford Raffles, walaupun secara implisit. Dalam bukunya The history of Java (1817) pengarang tersebut mengemukakan pula bahwa puisi itu dinyanyikan. Raffles menulis tentang La Galigo,

La Galígo, yang dikatakan putra Sawira Gáding, dianggap sebagai pengarang kisah Sawira Gáding, sejenis syair kepahlawanan yang dibacakan dengan suara bernyanyi. Setelah setiap lima suku kata ada jeda. Irama terdiri dari daktilus diikuti oleh trokhe [...]. Dia satu-satunya pengarang yang namanya diketahui secara umum; dan semua buku, termasuk yang paling modern, yang cara tulisannya sama, dinamai Galíga pula, walaupun istilah itu sebetulnya hanya dapat dipakai untuk kisah tentang pahlawan yang diperkirakan hidup sebelum masa anarki selama tujuh generasi yang ada di Bóni.10

Dari kutipan ini dapat ditentukan bahwa Raffles memang mengenal La Galigo serta beberapa ciri puisi itu. Bahwa seorang bernama Galiga adalah pengarang karya La Galigo tidak ditegaskan oleh sumber yang lain, dan Kern (1939:1) berpendapat bahwa itu tidak benar.

Walaupun John Crawfurd dalam bukunya History of the Indian archipelago (1820) membicarakan bahasa dan sastra Bugis secara singkat, La Galigo tidak disebutnya. Akan tetapi secara tidak langsung pengarang itu mungkin menunjuk kepada puisi Galigo,

Orang Bugis katanya mempunyai suatu bahasa yang kuno dan kurang dikenal. Bahasa itu serupa dengan bahasa Kawi dari Jawa dan bahasa Pali dari negara-negara Budhis; akan tetapi pengetahuan tentang bahasa itu terbatas pada golongan kecil sekali, dan saya belum menemui contohnya.

Kemungkinan besar yang dimaksudkannya ialah bahasa atau kosa kata yang merupakan salah satu ciri puisi La Galigo. Beberapa tahun kemudian Matthes menyebut bahasa itu Oud-Boegineesch (bahasa Bugis kuno).

Bahwa La Galigo, atau tokoh-tokohnya, dikenal juga di Kalimantan Barat disebut dalam artikel pada tahun 1828. Joan Hendrik Tobias, seorang pejabat kolonial, menulis bahwa silsilah raja-raja Mempawah ‘berawal dengan Laga Ligo dan Sewar Gading yang terkenal dari fabel sejarah Celebes dan dari pihak ibunya keturunan dewata’ (B.T.M. 1828:48). Di Kalimantan Timur ternyata tradisi La Galigo hidup di masyarakat Bugis di Kerajaan Paser yang terbukti dari naskah yang diperoleh tahun 1843 dan disimpan di koleksi Zeeuwsch Genootschap di Middelburg, Belanda (Koolhof [tidak terbit]).

Yang dapat dipastikan dari hal yang disebut di atas ialah bahwa pada awal abad ke-19 La Galigo baru mulai diketahui sebagai suatu genre penting dalam kesusastraan Bugis. Baik Leyden, maupun Raffles dan Crawfurd hanya memahami sebagian kecil sastra itu, dan ternyata tidak meneliti sendiri La Galigo. Informasi yang diberikan oleh dua dari ilmuwan Inggris itu diperolehnya di luar daerah Sulawesi Selatan. Hanya Crawfurd yang pernah menginjak tanah Sulawesi sebagai duta Letnan-Gubernur Raffles. Tobias satusatunya yang tinggal beberapa tahun di Sulawesi Selatan, dari 1802-1806 dan 1823-1825. Pengalamannya mungkin menjadi alasan pada tahun 1845, waktu cuti ke Belanda, dia diminta oleh Nederlandsch Bijbelgenootschap sebagai penasihat ketika lembaga itu mempertimbangkan mengutuskan seseorang ke Sulawesi Selatan dengan tugas meneliti bahasa Bugis dan bahasa Makassar guna menerjemahkan Alkitab (Handelingen 1846:66-71). B.F. Matthes, wakil Nederlandsch Bijbelgenootschap di Sulawesi Selatan adalah orang pertama yang sendiri meneliti sastra Bugis, termasuk La Galigo, secara ilmiah di daerah Bugis.

🪶 Fungsi dan Makna Budaya:

  • La Galigo merupakan warisan budaya dan sastra Bugis yang mencerminkan pandangan hidup, struktur sosial, serta nilai spiritual masyarakat Bugis
  • Fungsinya bukan hanya hiburan, tapi juga penyampai nilai moral, penghormatan leluhur, dan penjaga identitas budaya Bugis

✍️ Penulisan dan Penyebaran:

  • Ditulis dalam huruf Lontaraq dengan bahasa Bugis kuno (bahasa Galigo / basa to ri olo)
  • Naskah terdiri dari ribuan halaman (sekitar 6.000 halaman folio, ±225.000 baris)
  • Tradisi penyebarannya juga bersifat lisan, melalui pembacaan dan nyanyian oleh masyarakat Bugis

🌍 Status Internasional:

  • La Galigo diakui sebagai salah satu karya sastra terbesar di dunia, bahkan lebih panjang dari Mahabharata
  • Juga telah dipentaskan secara internasional oleh sutradara Robert Wilson dan tim Indonesia di berbagai negara (Eropa, Amerika, Asia)

🔥 Relevansi Saat Ini:

  • Generasi muda Bugis menjadikannya sumber inspirasi kebudayaan dan jati diri
  • Menjadi simbol kebangkitan literasi aksara Lontara dan pelestarian bahasa Bugis

🕰️ Nilai Sejarah:

  • Merekam pandangan dunia Bugis kuno, hubungan sosial, sistem kepercayaan, dan struktur kerajaan
  • Menjadi sumber utama untuk memahami sejarah awal Sulawesi Selatan dan persebaran budaya Bugis
  • Juga menunjukkan kontak budaya antara tradisi lokal dan pengaruh luar (seperti Islam dan bahasa Arab)

📖 Kesimpulan Cerita:

  • La Galigo adalah epos agung yang menyatukan mitologi, sejarah, dan moralitas, menggambarkan dunia ideal masyarakat Bugis yang berakar pada nilai-nilai luhur, kehormatan, dan keseimbangan hidup

💫 Pesan Moral:

  • Menjaga kehormatan, kesetiaan, dan keseimbangan dalam kehidupan
  • Menghormati asal-usul dan leluhur
  • Mengajarkan kebijaksanaan, keberanian, dan cinta yang luhur
  • Menunjukkan pentingnya melestarikan budaya dan bahasa daerah sebagai jati diri bangsa



Puisi Bugis (elong mpugi)

Lao ko la bempa cippeq

Balubu lanro Jawa

Selle ko makkalu

Pergilah engkau tempayan pecah (pergilah orang buruk)

Guci buatan Jawa (telah ada orang baik)

Menggantimu terlilit (yang menggantikanmu)

Makna elong mpugi

Maksud elong tersebut adalah seseorang yang meminta pasangannya untuk pergi sebab ia telah mendapatkan pengganti yang lebih baik.

Elong ini menggambarkan perasaan dilema dan penyesalan seseorang yang meninggalkan cinta lamanya demi orang lain. Ada unsur kesedihan, keegoisan, sekaligus kesadaran bahwa keputusan itu membawa luka bagi keduanya.

Pesan Moral

• Jangan mengorbankan cinta tulus demi keinginan sesaat
• Setiap keputusan dalam hubungan membawa konsekuensi yang harus diterima
• Kejujuran dan tanggung jawab dalam cinta lebih berharga daripada kesenangan sementara


Naskah Kuno & Kumpulan Penerapan Aksara Lontara

Naskah I La Galigo, koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia

Naskah I La Galigo, koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia

Akta pinjaman dengan isi dan cap beraksara Lontara dari Kerajaan Boné tahun 1864, koleksi Tropenmuseum

Akta pinjaman dengan isi dan cap beraksara Lontara dari Kerajaan Boné tahun 1864, koleksi Tropenmuseum

Buku cetak modern untuk mata pelajaran Bahasa Bugis

Buku cetak modern untuk mata pelajaran Bahasa Bugis

Papan infografis mengenai hari-hari baik untuk turun ke sawah di Museum La Galigo, Makassar

Papan infografis mengenai hari-hari baik untuk turun ke sawah di Museum La Galigo, Makassar

Peta laut Bugis yang menggambarkan perairan Nusantara, dengan anotasi Lontara' dari sekitar 1820

Peta laut Bugis yang menggambarkan perairan Nusantara, dengan anotasi Lontara' dari sekitar 1820

Contoh salah satu font lontara digital kontemporer, Salapa

Contoh salah satu font lontara digital kontemporer, Salapa

Papan nama Baruga Somba Opu, Gowa, dengan aksara Lontara (baris paling bawah) dan aksara Makassar (baris kedua dari bawah)

Papan nama Baruga Somba Opu, Gowa, dengan aksara Lontara (baris paling bawah) dan aksara Makassar (baris kedua dari bawah)

Salah satu Puisi Tembok Leiden [en] yang beraksara Lontara di KITLV, Leiden, Belanda

Salah satu Puisi Tembok Leiden [en] yang beraksara Lontara di KITLV, Leiden, Belanda

Sumber: "La Galigo: Menurut naskah NBG 188 / disalin dan disusun: Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa; draf transkripsi dan terjemahan: Muhammad Salim; editor: Fachruddin Ambo Enre, Nurhayati Rahman. -ED. 2.-Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017.

Informan: Daulat Samallangi To Parao (Pegiat Literasi Bugis)